Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak di Cincin Api Pasifik, Indonesia dihadapkan pada risiko bencana alam yang tinggi. Namun, penelitian mengenai kebencanaan masih terbatas dan belum sepenuhnya terintegrasi dalam kurikulum pendidikan nasional. Akibatnya, kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah masih rendah, di mana respons terhadap bencana cenderung bersifat reaktif, bukan proaktif.
Sebagai bagian dari refleksi kami di Caritra Indonesia Foundation, kami memandang bahwa tantangan kebencanaan ini tidak dapat dilepaskan dari persoalan urbanisasi dan ketimpangan pembangunan. Indonesia, sebagai negara G20 dengan 13.466 pulau, 360 kelompok etnis, dan 719 bahasa, menghadapi tantangan besar dalam menjaga konektivitas sosial dan ekonomi. Sebagian besar penduduk, sekitar 62%, tinggal di Pulau Jawa, yang hanya mencakup 7% dari luas daratan nasional. Ketimpangan spasial ini mendorong urbanisasi cepat dan memicu munculnya kawasan kumuh di berbagai kota besar.
Kawasan kumuh mencerminkan kompleksitas sosial, ekonomi, dan lingkungan perkotaan. Persaingan yang sangat ketat terhadap lahan dan keuntungan menyebabkan penurunan berbagai indikator kesejahteraan. Secara ekonomi, kawasan kumuh di Indonesia menimbulkan kerugian hingga sekitar US$5 juta per tahun akibat rendahnya produktivitas, tingginya biaya kesehatan, dan terbatasnya akses terhadap infrastruktur dasar. Oleh karena itu, penataan kawasan kumuh (slum upgrading) menjadi prioritas strategis bagi masa depan kota-kota Indonesia.
Kami mencermati bahwa berbagai upaya transformasi perumahan telah dilakukan pemerintah, tetapi masih terdapat kesenjangan kebijakan dan keterbatasan lahan. Kepemilikan tanah yang didominasi sektor swasta membuat pemerintah sulit menerapkan program perumahan rakyat secara luas. Padahal, kepastian hak tenurial menjadi fondasi penting bagi masyarakat berpenghasilan rendah untuk membangun kehidupan yang layak dan berkelanjutan.
Menjawab tantangan tersebut, kami di Caritra mengembangkan inovasi Klinik Rumah Sehat, sebuah layanan terpadu yang menggabungkan perancangan dan konstruksi rumah, pembiayaan dan subsidi perumahan, serta pendampingan teknis bagi masyarakat di kawasan kumuh. Pendekatan ini menempatkan warga sebagai aktor utama dalam proses peningkatan kualitas tempat tinggalnya, bukan sekadar sebagai penerima bantuan.
Kami meyakini bahwa urbanisasi yang cepat di Indonesia menuntut solusi yang inovatif dan inklusif. Kolaborasi menjadi kunci: pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat perlu bergerak bersama untuk membangun strategi penataan kota yang berkelanjutan. Dengan menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai pusat pembangunan, kita dapat mewujudkan kota yang tidak hanya layak huni, tetapi juga adil, tangguh, dan berkelanjutan bagi semua.